Otomotif

Lanskap Otomotif China 2026: Fase Seleksi Alam dan Dominasi Teknologi Baterai Generasi Baru

SUKABUMIPOST – Memasuki tahun 2026, industri otomotif China berada di titik balik krusial. Setelah bertahun-tahun didorong oleh subsidi besar-besaran, pasar kendaraan energi baru (NEV) kini memasuki fase “seleksi alam” yang brutal, di mana persaingan harga mulai bergeser menjadi perang inovasi teknologi tingkat tinggi.

Dominasi Baterai Solid-State dan Jarak Tempuh Ekstrem

Salah satu lompatan terbesar di awal 2026 adalah komersialisasi baterai solid-state dan semi-solid state. Raksasa otomotif seperti BYD telah memicu standar baru dengan meluncurkan model Yangwang U7 yang diklaim mampu menempuh jarak lebih dari 1.000 km dalam satu kali pengisian daya.

Teknologi ini memecahkan masalah utama konsumen, yaitu “kecemasan jarak tempuh” (range anxiety), dan mulai menggantikan dominasi baterai lithium-ion konvensional. Di sisi lain, Geely juga dilaporkan mulai melakukan pengujian massal baterai solid-state yang menawarkan keamanan lebih tinggi dibandingkan teknologi gel atau cair.

Regulasi Baru: Wajib Teknologi “Steer-by-Wire”

Pemerintah China melalui kementerian terkait secara resmi menerbitkan standar nasional baru yang mewajibkan penggunaan teknologi steer-by-wire untuk kendaraan yang diproduksi mulai Juli 2026. Teknologi ini menghilangkan koneksi mekanis tradisional antara setir dan roda, menggantinya dengan sinyal elektronik.

Langkah ini dipandang sebagai fondasi wajib untuk mendukung mobil otonom tingkat tinggi (Level 3), yang kini mulai diizinkan beroperasi di jalan-jalan protokol kota besar seperti Shanghai dan Shenzhen.

Konsolidasi Industri dan Ekspansi Global

Meski teknologi berkembang pesat, tekanan pasar domestik membuat banyak produsen EV kecil terancam bangkrut. Berakhirnya sebagian besar insentif pemerintah dan kenaikan pajak pembelian NEV hingga 5% per Januari 2026 memaksa perusahaan untuk melakukan konsolidasi.

Analis industri memprediksi hanya pemain besar dengan modal kuat—seperti BYD, Seres (Huawei), dan Xiaomi Auto—yang akan bertahan. Sebagai respons atas kejenuhan pasar domestik, produsen China kini memperluas jangkauan ekspor mereka.

  • Target Ekspor: China menargetkan ekspor 6,6 juta unit kendaraan pada 2026.

  • Fokus Pasar: Asia Tenggara (termasuk Indonesia), Asia Tengah, dan Eropa menjadi target utama melalui pembangunan pabrik lokal untuk menghindari hambatan tarif.

“Tahun 2026 bukan lagi soal siapa yang bisa menjual mobil paling murah, tapi siapa yang bisa menghadirkan ekosistem pintar dan teknologi baterai paling efisien,” ujar seorang analis pasar otomotif dari UOB Kay Hian dalam laporan terbarunya.

Dengan penetrasi kendaraan listrik yang diprediksi mencapai 60% dari total penjualan mobil di China tahun ini, Negeri Tirai Bambu tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai kiblat baru otomotif global, menggeser dominasi pabrikan tradisional dari Barat dan Jepang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *